
Apakah selama ini Anda merasa menjadi orang yang tidak pernah berprestasi? Kalau perasaan semacam itu berlangsung terus menerus bisa jadi Anda menderita impostor syndrome. Impostor syndrome adalah keyakinan seseorang bahwa dirinya tidak berbakat, tidak pintar, tidak cerdas, tidak berprestasi, atau tidak bermanfaat. Menariknya, keyakinan itu tetap membelenggunya meskipun telah ada seabreg bukti keberhasilan.
Sebenarnya orang yang mengalami sindrome ini bukan benar-benar gagal, tetapi gagal di pikiran dan perasaaanya saja. Mereka tidak mampu menerima dan menginternalisasi keberhasilan yang diraihnya. Mereka terus menerus meragukan atas kesuksesannya sendiri. Kalaupaun ada orang yang lain yang menyodorkan menyodorkan bukti kehebatannya, dia menilainya sebagai keberuntungan atau kebetulan semata.
Apakah keyakinan semacam itu bermasalah? Tentu saja, impostor syndrome merontokkan kepercayaan diri seseorang. Tetapi bukan hanya itu. Prestasi yang menurutnya ‘pura-pura’ itu membuat dirinya merasa menjadi penipu. Dampak lanjutannya, mereka merasa bersalah dan takut ‘prestasi pura-puranya’ terbongkar. Meskipun psikolog tidak mengategorikannya sebagai kelainan (disorder), impostor syndrome berdampak buruk pada kesehatan jiwa karena memunculkan kegelisahan dan stres.
Mengenali Ciri Impostor Syndrome
Sekarang Anda mungkin bertanya-tanya, apakah Anda termasuk orang mengalami impostor syndrome? Untuk mengetahuinya, jawab pertanyaan berikut ini:
- Apakah Anda sering bekerja berlebihan (berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang larut malam) hanya untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa Anda sudah cukup bekerja keras?
- Apakah Anda menyalahkan dan mengkritik diri sendiri karena kesalahan kecil?
- Apakah Anda merasa seperti seorang penipu yang membodohi rekan kerja dan atasan, dan takut ‘rahasia’ Anda akan terbongkar?
- Apakah Anda merasa pekerjaan mengatur hidup Anda?
- Apakah Anda yakin bahwa rekan kerja Anda lebih teratur dan terkendali, tidak seperti Anda yang berantakan?
- Apakah kesuksesan Anda karena keberuntungan?
- Apakah Anda merasa tidak pantas menerima pujian karena, menurut Anda, kerja Anda buruk?
- Apakah Anda merasa tidak nyaman untuk meminta bantuan orang lain?
- Apakah Anda merasa tidak dapat memulai atau menyelesaikan proyek Anda?
- Apakah Anda menolak peluang atau menghindari tantangan di tempat kerja?
Kalau jawaban Anda terhadap sepuluh pertanyaan tersebut adalah “ya”, berarti Anda mengalami impostor syndrome.
Jenis Impostor Syndrome
Impostor syndrome mewujud ke dalam 4 jenis yaitu The Perfectionist , The Expert, The Soloist, The Natural Genius, dan The Superhuman. Mari kita lihat masing-masing jenisnya.
The Perfectionist
Orang yag mengalami impostor syndrome jenis Perfectionis memandang dunia dan dirinya harus serba sempurna sesuai standarnya. Kesalahan dan kekurangan kecil adalah aib besar. Orang yang mengalami sindrom jenis ini melakukan kesalahan kecil sekalipun akan membuat dirinya malu dan merasa gagal.
Sebagai contoh, seorang petugas pelayanan pelanggan melayani 5000 pelanggan merasa gagal total ketika mendapat keluhan dari 3 orang. Padahal pada saat yang sama dia menerima pujian dari 4 000 pelanggan lainnya. Perfectionist justru fokus pada kekurangan dirinya.
The Expert
Berbeda dengan The Perfectionist, The Expert memusatkan perhatian pada apa dan seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai. The Expert meyakini harus memahami segalanya. Ketika ada pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya atau ada persoalan yang tidak bisa dipecahkannya, mereka merasa gagal dan malu.
Banyak pemimpin mengalami jenis impostor syndrome jenis ini. Pemimpin biasanya memosisikan diri sebagai orang yang serba bisa dan serba tahu. Ketika ada bawahannya yang meminta advis atau indformasi, mereka merasa harus bisa memecahkannya sendiri. Apabila tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan dirinya merasa gagal sebagai pemimpin.
The Soloist
Orang yang mengalami impostor syndrome jenis Soloist merasa harus melakukan semuanya sendiri. Menurutnya, tugas yang diberikan kepadanya merupakan tanggung jawab dirinya dan harus bisa diselesaikan sendiri. Bantuan atau intervensi dari orang lain dianggapnya sebagai kelemahan. Itulah sebabya, kalau ada pekerjaan besar dia akan bekerja siang dan malam untuk menyelesaikanya sendiri. Demikian pula kalau ada persoalan yang kompleks, mereka akan memecahkannya sendiri. Kalau ada orang yang menawarkan bantuan cenderung ditolak karena dianggap membuka aib kekurangannya.
The Natural Genius
Orang yang mengalami impostor syndrome jenis Natural Genius, menilai dirinya sebagai orang jenius. Mereka meyakini bahwa menyelesaikan tugas secara cepat merupakan indikasi sebagai orang yang kompeten.
Jadi, kesulitan atau gagal menyelesaikan tugas pada upaya pertama, berarti kegagalan total. Sebagai contoh, seorang pekerja karena prestasinya diangkat menjadi supervisor. Namun ketika hadir di rapat tim, dia menyadari bahwa dirinya harus mempelajari keterampilan baru yang kompleks untuk berhasil dalam peran barunya. Dia merasa malu, karena dia tidak mahir dalam peran manajerial itu dan merasa tidak kompeten. Dia merasa tidak layak untuk menjadi supervisor.
The Superhuman
Orang yang mengalami impostor syndrome tipe Superhuman, merasa harus dapat menjalankan dan menyukseskan banyak peran. Misalnya seorang manajer proyek yang brilian ingin unggul dalam menulis laporan proyek, berbicara di depan umum, dan juga pemasaran. Ketika ada bidang yang lemah, mereka merasa malu — karena mereka percaya bahwa harus unggul dalam semua peran setiap saat.
Bagaimana cara mengatasi impostor syndrome?
Ternyata impostor syndrom dialami oleh banyak orang sukses. Studi yang dilakukan oleh Gail Matthews, KPMG, dan Kajabi , yang dipresentasikan di situs Imposter Syndrome Institute, menunjukkan menunjukkan bahwa:
- 70% orang sukses mengatakan bahwa mereka merasa pernah merasakan sindrome ini dalam hidup mereka,
- 75% wanita eksekutif menyatakan bahwa mereka telah berjuang melawan fenomena impostor syndrome, dan
- 84% pengusaha dan pemilik usaha kecil mengatakan bahwa mereka pernah merasa mengalami impostor syndrome suatu saat dalam hidup mereka.
- Jadi kalau Anda sedang mengalaminya, tidak usah khawatir. Anda tidak sendirian. Lalu bagaimana menanganinya? Ikuti nasihat dari para ahli.
1. Kenali emosi Anda
Coba kenali emosi Anda. Apakah Anda merasa menjadi orang yang tidak berprestasi? Apakah Anda merasa menjadi orang yang benar-benar bodoh? Apakah Anda merasa gagal secara terus menerus? Mengapa perasaan itu muncul?
Akuilah bahwa Anda memiliki keyakinan dan perasaan itu. Dengan melakukan ini, Anda mengarahkan otak pada fakta dan mendapatkan kembali kekuatan untuk mengendalikan emosi dan ketakutan tersebut. Membangun pemahaman emosi membantu Anda menjadi lebih bijak dalam meresponsnya.
2. Buatlah daftar pencapaian
Selanjutnya, buat daftar pencapaian dan prestasi. Prestasi adalah kemampuan mewujudkan atau melebihi keinginan dan tujuan. Semua orang pasti pernah mencapai keberhasilan. Identifikasi keberhasilan-keberhasilan tersebut. Misalnya, Anda telah mendapatkan pekerjaan, meraih posisi saat ini, lulus perguruan tinggi, mendapat bonus dan sebagainya. Selanjutnya, telusuri kembali bagaimana tujuan-tujuan tersebut dapat Anda capai.
Dengan membuat daftar prestasi atau pencapaian, Anda menyadarkan diri bahwa Anda bukan ‘kaleng-kaleng’. Anda memiliki kehebatan yang bisa dibanggakan.
3. Menata ulang cara berpikir
Coba kenali cara berpikir Anda apakah termasuk perfectionist, harus seperti ahli, harus soloist, atau harus menjadi super human. Coba tantang kembali cara berikir Anda. Mengapa harus serba sempurna, misalnya. Mengapa harus malu kalau gagal. Memang ada masalah kalau tidak menjadi orang yang serba tahu dan serba bisa.
Anda juga dapat melakukan 'pembingkaian ulang positif'. Dari daftar kesuksesan masa lalu Anda mengingatkan diri sendiri bahwa Anda telah berprestasi sebelumnya, yang membuktikan bisa berprestasi lagi di masa depan. Teknik ini disebut 'restrukturisasi kognitif', yaitu mengidentifikasi pikiran negatif dan menantangnya dengan bukti sebaliknya.
4. Ojo dibanding-bandingke (Jangan bandingkan dengan orang lain)
Jangan membandingkan diri Anda dengan orang lain. Ketika Anda membandingkan dengan orang lain, sebenarnya Anda sedang melemahkan diri sendiri.Membandingkan dengan orang yang menurut Anda lebih rendah, secara tidak sadar Anda menjadi sombong yang menghambat kemajuan sendiri. Ketika membandingkan dengan orang yang dirasa lebih sukses, Anda menjadi kecil hati dan merasa kalah.
Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengatasi impostor syndrome adalah mengadopsi growth mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa keberhasilan seseorang bukan karena sifat bawaan dari lahir, tetapi karena usaha yang konsisten dan tangguh untuk mencapai tujuan. Anda tidak perlu membandingkan dengan orang lain, tetapi fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Kalaupun akan membandingkan, bandingkan dengan pencapaian sendiri sebelumnya, dan lakukan rencana untuk perbaikannya.
5. Curhat
Salah satu penyebab kegelisahan adalah karena Anda menyimpan sendiri semua permasalahan sendiri. Berbicara dengan seseorang yang Anda percayai tentang sindrom yang diderita akan sangat membantu merigankan dampak kejiwaan. Orang dekat yang Anda ajak bicara akan memberi pandangan baru.
Contoh pandangan baru yang dapat meringankan dampak impostor syndrome misalnya:
“Tidak masalah kamu berbuat salah sekali sekali. Semua orang pasti pernah berbuat salah.”
“ Kamu itu orang hebat. Coba pikir, kamu dapat lulus S2 dengan nilai cumlaude, sekarang menjadi manajer. Pernah mendapat penghargaan sebagai penjual terbaik.”
Impostor syndrome memang bukan gangguan jiwa. Tetapi jika tidak dikelola dengan baik, akan berdampak buruk pada karier di pekerjaan. Bahkan dalam jangka panjang juga memunculkan gangguan jiwa seperti stress dan depresi. Oleh karena itu, kenali gejalanya dan apabila mengalaminya, kelola dengan baik.
Referensi HR
Kategori :
Psikologi Manajemen
Tanggal :
31 Januari 2024
Join HRManufaktur PRO
HR Manufaktur Indonesia hadir untuk mendampingi para profesional HR manufaktur untuk menguasai pengetahuan dan kompetensi baru tersebut