
Terlepas bekerja di perusahaan apapun, pada bidang apapun, mau tidak mau kita harus bekerja dengan orang lain. Orang lain itu bisa atasan, bawahan, rekan kerja, pelanggan atau pemasok. Ketika bekerja sama, kita tidak memiliki kemewahan untuk memilih hanya dengan orang yang cocok atau kita sukai. Salah satu orang yang tidak menyenangkan untuk diajak bekerja sama adalah orang narsistik.
Orang narsistik bukanlah orang yang sekedar mejeng di media sosial atau memuji-muji dirinya di depan atasan. Pada level ini, orang narsis tidaklah terlalu menganggu, kecuali Anda sendiri yang cemburu. Tetapi pada level yang lebih tinggi, orang narsis bisa berbahaya. Mereka memaksa, melecehkan, dan menipu. Pada titik tertentu, narsisitik merupakan jenis gangguan mental.
Orang dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki ego dan persepsi diri yang berlebihan. Mereka cenderung mendahulukan kebutuhannya sendiri dan mengabaikan kebutuhan orang lain. Mereka sering memanipulasi orang atau situasi demi mendapatkan keinginannya.
Orang narsistik haus pujian dan dikagumi. Ini merupakan bagian paling penting dari identitas mereka. Mereka sangat menderita bahkan depresi ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi. Sebagai akibatnya, mereka akan berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkannya. Di pekerjaan orang narsistik akan mengejar posisi pemimpin demi dianggap sebagai orang hebat. Ketika menjadi pemimpin mereka tampak seperti tidak berperasaan, terlalu menuntut, dan tidak menghormati orang lain.
Ciri Orang Narsistik
Untuk dapat bekerja dengan orang narsistik, Anda perlu mengenali karakteristik mereka. Inilah ciri paling menonjol orang narsisitik di tempat kerja.
- Menuntut perhatian. Orang narsistik sering kali tampil egois dan berlebihan. Ini karena mereka haus akan perhatian. Tidak jarang mereka membuat keributan hanya untuk menarik perhatian orang lain.
- Kharismatik dan meyakinkan: Orang narsistik bisa tampil sangat menawan dan ramah. Mereka mungkin sangat disukai oleh rekan kerja tertentu, terutama karena mereka ahli dalam menciptakan kesan pertama yang baik.
- Mengaku keberhasilan orang lain. Ketika timnya berhasil, orang narsis mengambil tanggung jawab sepenuhnya, mengaku sebagai keberhasilan sendiri dengan meremehkan kontribusi orang lain. Pada level yang parah, orang narsis terkadang mengaku keberhasilan orang lain sebagai keberhasilannya sendiri meskipun dirinya tidak berkontribusi sama sekali. Ini yang dinamakan sebagai ‘mencuri pujian’.
- Melempar tanggung jawab atas kesalahan. Sebaliknya, ketika terjadi kesalahan atau ada sesuatu yang tidak beres, orang narsistik cenderung melempar tanggung jawab. Mereka akan menyalahkan orang lain, berbohong, atau menyangkal telah terjadi kesalahan.
- Bergosip tentang orang lain. Orang narsistik akan berkibar dalam suasana kacau, mengadu domba rekan kerja atau atasan dengan berita-berita menyesatkan. Mereka bergosip atau menyebarkan rumor tentang orang lain, terutama jika mereka merasa iri atau terancam.
- Bereaksi negatif terhadap masukan. Orang narsistik sulit untuk menerima masukan dari orang lain. Mereka cenderung sangat sensitif terhadap kritik yang dapat mengancam egonya. Mereka bisa marah besar ketika diberi masukan dan kritik sekalipun dengan cara yang halus.
- Semua bisa diatur. Orang narsistik cenderung mengambil jalan pintas dan membuat keputusan yang tidak etis. Baginya atutran dan etika bisa dimainkan. Mereka merasa tidak bersalah untuk menerapkan standar ganda pada orang lain.
- Agresi pasif. Orang narsistik sering menyerang dengan sindiran dan nyiyir untuk “membenarkan” tindakan sendiri. Misalnya, mereka mengkritik seseorang secara tajam, tetapi segera menindaklanjutinya dengan kata-kata: “Saya hanya bercanda”, atau, “Jangan tersinggung! Kamu kan tahu saya suka kamu!”
- Menginterupsi dan memonopoli percakapan. Orang narsistik cenderung mementingkan diri sendiri, dan mereka memprioritaskan pikiran dan kebutuhan mereka di atas pikiran dan kebutuhan orang lain. Akibatnya, mereka sering menyela, mengabaikan, atau memonopoli perhatian.
- Sangat pencemburu. Meskipun tampak sombong, orang narsistik sebenarnya merasa sangat tidak aman. Mereka cenderung menunjukkan rasa cemburu pada kesuksesan orang lain, bahkan pada masalah yang paling kecil sekalipun.
Cara Menghadapi Orang Narsistik di Tempat Kerja
Kalau Anda berhadapat dengan orang narsistik, Terlepas bekerja pada perusahaan apapun atau bidang profesi apapun, bergaul dengan rekan kerja merupakan hal yang penting. gkatkan cara Anda mengatasinya.
1. Pelajari cara kerja gaslighting
Salah satu cara yang digunakan oleh orang narsistik untuk memenuhi kebutuhannya adalah dengan melakukan gaslighting. gaslightingmerupakan salah satu bentuk pelecehan psikologis yang membuat seseorang mempertanyakan kesadaran atas realitas dirinya. Teknik gaslighting dapat berupa pemaksaan, manipulasi, kambing hitam, dan kebohongan yang disengaja. Mendidik diri sendiri mengenai gaslighting membantu Anda mempertahankan diri dari serangan orang narsistik.
2. Jangan anggap sebagai masalah pribadi
Ketika berhadapan dengan orang narsistik, lihatlah orang narsistik sebagai orang yang sedang mengalami ganguan mental. Segala perbuatan dan ucapan jangan diambil hati. Masalah bukan pada Anda, tetapi pada orang yang narsisitik itu. Tugasnya Anda adalah menjaga diri agar perilaku si narsistik tidak merugikan apalagi sampai menghancurkan Anda.
3. Jangan banyak berharap
Wajar jika Anda berharap rekan kerja dapat bertangung tanggung jawab atau menunjukkan empatinya pada orang lain. Namun kalau Anda berpegang pada standar yang tidak realistis teradap si narsistik dapat memicu kebencian yang lebih besar. Oleh karena itu cobalah fokus untuk menerima rekan kerja apa adanya. Itu tidak berarti Anda harus menyukai atau memaafkan perilaku buruknya. Penerimaan berarti Anda mengakui kenyataan apa adanya.
4. Dokumentasikan perilaku yang menyinggung
Banyak orang narsisitik lolos dari ‘hukuman’ karena perilaku beracunnya atau tidak etisnya karena dalam kenyataan kinerjanya sangat baik. Namun, mereka cenderung menginjak orang lain untuk maju. Oleh karena itu, setiap kali menemukan perilaku pelecehan psikologis, catatlah. Meskipun Anda tidak memiliki niat untuk memberi ‘hukuman’ kepada si narsistik, catatan pelanggarran tersebut dapat menjadi bukti berhaga ketika masalah yang lebih serius muncul.
5. Tetapkan batasan yang tegas
Anda harus menetapkan batas-batas jelas ketika berhadapan dengan si narsistik. Batasan tersebut dapat berupa batasan fisik, etika, aturan, mental, dan emosional. Batasan tersebut harus ditunjukkan secara tegas. Kalau si narsisitik melanggar batas-batas tadi, segera ambil tindakan. Misalnya, si narsistik mencoba mendekati Anda dengan mengelus pundak, segera tepiskan tangannya. Kalau si narsistik mulai mengajak ngobrol masalah pribadi, segera tinggalkan.
6. Tetap asertif
Orang narsistik cenderung tertarik pada orang yang memiliki kepribadian penurut. Ini karena mereka ingin mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang lemah sehingga tampak hebat. Oleh karena itu, tetap tegas dan teguh pada nilai dan keyakinan Anda. Kalau Anda tampak lemah, mereka akan menjajah untuk menunjukan kehebatannya.
7. Konsultasikan dengan atasan
Jika masalah terus terjadi – atau jika ketegangan meningkat – ada baiknya Anda menyampaikan kekhawatiran Anda kepada atasan. Pertimbangkan untuk menuliskan kejadian spesifik apa pun dan bersikap objektif saat menyampaikan masalah tersebut. Hindari menjelek-jelekkan rekan kerja Anda; sebaliknya, fokuskan pada masalahnya (bukan kepribadiannya).
8. Waspadai sanjungan
Orang narsistik mungkin tertarik pada orang tertentu yang dianggapnya istimewa atau superior. Jika ini terjadi pada Anda, mereka mungkin memproyeksikan semua fantasi sempurna mereka kepada Anda dan menghujani Anda dengan cinta dan perhatian. Pada awalnya, ini tampak sangat bermanfaat. Namun harus hati-hati, karena sikap ini dapat berubah. Pada akhirnya, mereka akan menyadari bahwa Anda hanyalah manusia biasa dan kecewa, yang menyebabkannya marah besar.
9. Hindari membagikan detail pribadi
Jangan terlalu bermurah untuk membagikan masalah-masalah pribadi dengan orang narsistik atau orang terdekatnya. Jangan membocorkan rahasia kehidupan rumah tangga atau minat pribadi. Orang narsistik dapat memanfaatkan rahasia itu demi keuntungan emosional atau finansialnya. Tentu saja, anda juga tidak boleh menyampaikan masalah pribadi di media sosial karena bisa dimanfaatkan oleh si narsistik juga.
10. Bicaralah dengan orang SDM
Jika atasan Anda tidak mengatasi kekhawatiran Anda dengan baik – atau jika mereka bertindak dengan marah atau tidak etis – Anda perlu berkonsultasi dengan perwakilan SDM perusahaan. Sebagai seorang karyawan, Anda memiliki hak untuk diperlakukan dengan hormat di tempat kerja. Seperti ketika menghadap atasan, Anda harus membawa bukti tentang perilaku yang melecehkan. Fokus pada perilakunya bukan pada orangnya.
Berurusan dengan rekan kerja narsisme bisa sangat melelahkan. Namun, Anda tidak harus menjadi korban dari sikap beracun mereka. Mempertahankan sikap profesional, tidak terlibat dengan perilaku mereka, dan mencari dukungan aktif merupakan strategi terbaik Anda untuk kesuksesan Anda.
Referensi HR
Kategori :
Psikologi Manajemen
Tanggal :
04 Maret 2024
Join HRManufaktur PRO
HR Manufaktur Indonesia hadir untuk mendampingi para profesional HR manufaktur untuk menguasai pengetahuan dan kompetensi baru tersebut