
Pada artikel “Apakah Anda Seorang Agresif-Pasif?”, Anda sudah diperkenalkan dengan ciri-ciri, penyebab, dampak, dan cara mengelola perilaku agresif-pasif pada diri sendiri. Pada tulisan “Menghadapi Perilaku Agresif-Pasif Rekan Kerja” Anda bisa mendapatkan tips menghadapi serangan pasif dari rekan kerja atau bawahan. Nah bagaimana menavigasi hubungan dengan atasan yang agresif-pasif? Tentu ini lebih sulit karena atasan memiliki wewenang untuk mengarahkan kita.
Perilaku agresif-pasif dari seorang atasan sering bermanifestasi sebagai bos yang tampak menyenangkan di luar, tetapi tidak memecahkan masalah di dalam. Atasan agresif-pasif memiliki cara yang lembut untuk menolak dan menghentikan gagasan-gagasan tanpa penjelasan yang bijak. Bos agresif-pasif menggunakan perilaku nonverbal yang meremehkan, seperti acuh tak acuh saat Anda berbicara atau menanggapi dengan sarkasme. Dia menghindari memberi umpan balik langsung, tetapi mengeluh tentang Anda kepada orang lain.
Jika Anda berurusan dengan atasan seperti ciri-ciri di atas, coba ikuti beberapa tips berikut ini.
Analisis komunikasi Anda dengan manajer Anda.
Sebelum mengambil langkah yang lebih drastis, pertimbangkan bahwa setiap orang memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Tanyakan pada diri Anda: Apakah bos saya sengaja bersikap agresif-pasif atau hanya karena saya salah tafsir? Mungkin Anda memiliki harapan yang berlebihan sehingga interaksi apa pun tampak tidak lancar. Atau mungkin atasan Anda memiliki sikap angkuh dan memperlakukan semua orang seperti ini.
Amati pola komunikasi diri sendiri maupun atasan Anda. Simpan catatan interaksi penting untuk referensi dan tanyakan kepada rekan yang bisa dipercaya apakah memiliki pengalaman serupa. Misalnya, jika atasan Anda meremehkan Anda dalam rapat tim, Anda dapat bertanya kepada rekan kerja: “Apa pendapat Anda tentang interaksi saya dengan bos kita dalam rapat itu? Apakah Anda menemukan ketegangan atau sesuatu yang tidak normal? Cek apa ada kecocokan antara hasil pengamatan Anda dengan pendapat rekan.
Tidak setiap interaksi antara Anda dan atasan harus sempurna, tetapi jika menemukan pola penghindaran konflik, kesepakatan palsu, sarkasme, atau perilaku meremehkan lainnya, bisa jadi atasan Anda memang agresif-pasif.
Buat komunikasi tertulis
Catat interaksi Anda dengan atasan sehingga dapat mengingat semua yang terjadi dan mengevaluasi hubungan tersebut secara objektif. Catatan tersebut juga dapat memberi Anda bukti upaya Anda. Jika atasan Anda tidak memberi deadline yang detail, misalnya, tindak lanjuti dengan email untuk memastikan Anda memiliki pemahaman yang jelas. Jika atasan Anda memberi ulasan negatif yang tidak berdasar atau menjelek-jelekkan Anda di depan rekan kerja, bukti tertulis akan sangat membantu Anda. Anda memiliki bukti otentik mengenai kejadian yang sesungguhnya.
Ketika Anda akan melakukan pertemuan dengan bos, siapkan agendanya secara rapi. Catat semua kesepakatan yang dibuat. Selanjutnya, setelah pertemuan kirim email ke bos mengenai kesepakatan yang telah dibuat. Bos yang super agresif-pasif, terkadang menyerang dengan mengaku tidak pernah menerima kiriman email. Meskipun demikian, Anda dapat menunjukkan kembali area kesepakatan yang terkadang terlupakan.
Jangan bergosip
Kalau atasan Anda memang agresif-pasif, serangan itu juga dirasakan oleh rekan kerja yang lain. Tapi ingat jangan tergoda untuk bersimpati dengan rekan kerja yang jadi sasaran dan ikut meluapkan kekesalan bersama dengan bergosip. Gosip akan menjadi bumerang, karena cepat atau lambat atasan akan mengetahuinya. Dampaknya Anda memiliki reputasi buruk sebagai tukang gunjing di mata rekan kerja, atasan dan pimpinan lain dalam organisasi. Bahkan jika bos menggunjingkan Anda, jangan membalasnya. Bos mana pun yang terus-menerus dan secara terbuka menjelek-jelekkan anak buahnya hanya merugikan diri sendiri. Tidak ada yang mau bekerja untuk pemimpin yang tidak mendukung dan membimbing bawahannya.
Ingat juga bahwa ada perbedaan antara aktif mencari solusi dan bergosip. Jika Anda merasa ada masalah yang tidak dapat diatasi, diskusikan secara rahasia dengan rekan yang bisa dipercaya. Skenario terburuk yang bisa dilakukan Anda membicarakannya dengan bagian SDM. Anda dapat menghubungi departemen SDM untuk meminta umpan balik tentang cara menghadapi bos yang agresif-pasif. Meskipun mungkin tidak mendapatkan saran eksplisit, Anda bisa mendapatkan informasi berharga mengenai apa yang sebenarnya terjadi di departemen Anda. Misalnya Anda bisa mendapat informasi bahwa bos Anda sedang dalam promosi untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Dengan informasi ini Anda bisa berharap akan mendapat atasan baru. Sebaliknya, bisa saja Anda mendapat informasi bahwa atasan akan menduduki posisi itu dalam waktu lama, sehingga Anda bisa memutuskan untuk pindah ke bagian lain, misalnya.
Berkomunikasi secara terbuka dan langsung
Meskipun atasan yang agresif-pasif cenderung memilih interaksi tidak langsung, tidak ada salahnya untuk mencoba menemuinya, berbicara secara langsung dan terbuka. Pilih waktu dan tempat yang tepat untuk mendiskusikan kekhawatiran Anda secara terbuka dan jujur. Dekati percakapan dengan pola pikir berorientasi solusi, ungkapkan keinginan Anda untuk meningkatkan hubungan kerja.
Kembangkan jejaring internal
Jika memutuskan untuk pindah bagian, langkah pertama yang harus Anda ambil adalah memperluas jejaring internal. Anda bisa menggunakan beberapa cara. Pertama, membiasakan diri untuk berkenalan dengan orang di luar bagian. Anda bisa sekedar mengajak ngobrol ketika makan di kantin, atau saat berangkat dan pulang kerja. Cara berikutnya, Anda bisa membantu rekan di bagian lain yang membutuhkan, secara informal. Namun harus hati-hati jangan sampai mengganggu pekerjaan utama Anda. Ketiga, Anda aktif terlibat dalam tim lintas fungsi, seperti gugus kendali mutu, panitia acara, atau tim proyek. Pokoknya lakukan apa saja agar Anda tidak seperti katak dalam tempurung.
Melihat opsi pindah kerja
Memang tidak ada aturan yang pasti kapan kita harus pindah kerja karena atasan yang agresif-pasif. Tetapi kalau lingkungan kerja Anda sudah membahayakan kesehatan fisik dan mental, sudah tiba saatnya untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Prioritaskan kesejahteraan dan karier Anda di atas segalanya. Jangan biarkan perilaku pasif-agresif mengalihkan Anda dari tanggung jawab pekerjaan dan tujuan karier jangka panjang Anda.
Berikut adalah beberapa tanda yang menunjukkan sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal dari perusahaan Anda:
- Pekerjaan penting tidak selesai karena terlalu sibuk mengelola interaksi dengan atasan.
- Pekerjaan Anda memunculkan stres dan ketakutan yang merembes ke area lain dalam hidup Anda.
- Anda berhenti belajar karena hanya berfokus pada pengelolaan perilaku atasan.
- Tidak ada kesempatan untuk pindah ke departemen lain dalam perusahaan.
- Anda mengalami kelelahan fisik dan mental.
Selama menghadapi atasan yang agresif-pasif penting sekali untuk tetap profesional. Fokus untuk memberikan hasil kerja berkualitas tinggi, dan memikirkan karier jangka panjang. Memang, memiliki bos yang buruk akan berdampak besar pada kesehatan mental, fisik, dan emosional Anda. Demi kesehatan Anda, ambil waktu untuk istirahat dan pemulihan di luar pekerjaan. Anda bisa ikut olah raga, menjalani kegiatan sosial atau terliat dalam komunitas hobi. Kesehatan fisik dan mental harus dijaga. Untuk apa mendapatkan uang banyak kalau hidupnya tidak sejahtera?
Sumber: How to Deal with a Passive-Aggressive Colleague (hbr.org)
Referensi HR
Kategori :
Psikologi Manajemen
Tanggal :
10 Juni 2023
Join HRManufaktur PRO
HR Manufaktur Indonesia hadir untuk mendampingi para profesional HR manufaktur untuk menguasai pengetahuan dan kompetensi baru tersebut