
Pada artikel “Apakah Anda Seorang Agresif-Pasif?”, Anda sudah diperkenalkan dengan ciri-ciri, penyebab, dampak, dan cara mengelola perilaku agresif-pasif pada diri sendiri. Bagaimana kalau perilaku negatif tadi datang dari rekan kerja (termasuk bawahan)? Apa gejalanya dan bagaimana cara menghadapinya?
Sekedar mengingatkan kembali, perilaku agresif pasif adalah bentuk perlawanan, permusuhan, dan ‘penyerangan’ dengan cara terselubung dan halus. Serangan bisa dilakukan dengan perkataan seperti bantahan dan sindiran maupun dengan bahasa tubuh seperti memalingkan muka, mencibir, bersungut-sungut, atau senyum merendahkan. Selain itu, dan ini yang paling berbahaya, ada juga agresif-pasif dengan bentuk perbuatan sembunyi sembunyi yang merugikan. Misalnya secara sengaja menunda pekerjaan atau menurunkan kualitas kerja, dengan tujuan membuat kesal atau melukai pikiran dan perasaan Anda.
Seperti apa tanda-tanda ketika Anda mendapat ‘serangan’ agresif-pasif?
- Pertama, seseorang berjanji dan tidak menepatinya. Misalnya Anda memerintahkan anak buah untuk mengirim laporan jam 9 esok pagi, karena akan digunakan dalam rapat jam 14.00. Bawahan Anda dengan meyakinkan berkata: “baik Pak”. Tetapi keseokan harinya jam 9 laporan itu belum dikirim. Bahkan jam 13, email yang Anda tunggu-tungu belum masuk juga. Ketika ditelepon, anak buah tersebut tidak mengangkat. Ketika bertemu dan ditanyakan dengan enteng dia menjawab: “Oh maaf, saya lupa Pak.”
- Kedua, seseorang menyerang dengan kata-kata, baik halus atau kasar, di hadapan orang lain. Di rapat dia menyindir atau mengungkapkan keburukan Anda. Di depan atasan Anda, dia menyampikan kesalahan-kesalahan Anda. Anehnya dia tidak mau membicarakannya langsung dengan Anda. Bahkan ketika ditanya apa sumber masalahnya, dia menghindar: “Sebenarnya bukan itu maksud saya,….”
- Ketiga, melakukan penolakan dengan bahasa tubuh, seperti cemberut, bermuka masam, memalingkan muka dan sebagainya. Masalahnya, ketika ditanya apa sebab-musababnya, dia berucap: “tidak masalah kok.”
Sebenarnya bukan hal yang aneh bagi rekan kerja untuk sesekali melontarkan komentar agresif pasif satu sama lain, mengenai masalah yang sangat sensitif atau ketika merasa tidak bisa menyampaikannya secara langsung. Tetapi kalau ada orang yang memiliki perilaku agresif pasif secara terus menerus, harus diwaspadai. Mungkin orang ini termasuk yang mau melakukan apa saja untuk mendapatkan yang dibutuhkan, termasuk dengan berbohong. Dalam kasus ini, Anda harus mengambil tindakan pencegahan untuk menyelsaikan persoalannya. Bagaimana caranya?
Jangan terjebak
Ketika rekan kerja berpura-pura tidak terjadi apa-apa atau menuduh Anda bereaksi berlebihan, sulit untuk tidak marah dan bersikap defensif. Tetapi itu bukan cara menyelesaikan persoalan yang baik. Api jangan dilawan dengan api. Lakukan yang terbaik untuk tetap tenang. Bisa jadi rekan kerja tersebut secara sengaja memancing kemarahan untuk bisa menyalahkan Anda. Menanggapi secara emosional akan membuat Anda terlihat — dan merasa — seperti orang bodoh. Ini bisa dimanfaatkan oleh si agresif-pasif untuk menunjukkan bahwa Anda tidak bisa mengendalikan diri, tidak berkualitas, dan tidak kompeten. Gunakan kesabaran, tata emosi Anda, dan beri respons secara profesional. Jadikan ‘jebakan’ agresif-pasif untuk menujukkan Anda adalah orang yang dewasa dan rsional. Tidak mudah memang, tetapi berlatihlah.
Pertimbangkan apa yang memotivasi perilaku
Orang yang bertindak agresif-pasif belum tentu benar-benar orang brengsek. Bisa jadi mereka tidak tahu cara berkomunikasi atau takut menghadapi konflik. Perilaku agresif-pasif seringkali merupakan cara bagi seseorang untuk "menyampaikan pendapat emosional”. Ada juga keegoisan di dalamnya. Mereka membuat asumsi yang salah: orang lain harus mengetahui perasaanya, dan keinginanya lebih penting daripada keinginan orang lain. Anda mungkin sering mendengar rekan kerja yang berucap: “harusnya dia tahu dong perasaan saya”.
Dalam menghadapi orang seperti ini, tugas Anda adalah membaca keinginan atau perasaan yang sebenarnya. Anda perlu mengenali ekspresi emosi yang tidak produktif yang tidak disampaikan secara konstruktif. Tidak mudah memang, tetapi Anda harus belajar.
Pahami diri sendiri
Seperti yang disampaikan dalam artikel “Apakah Anda Seorang Agresif-Pasif?”, setiap orang pernah melakukan agresif-pasif pada kondisi tertentu. Ketika menghadapi rekan kerja yang agresif-pasif, pertimbangkan apakah Anda ikut andil dalam kejadian itu. Misalnya kita bicara emosional dan menyakiti hati orang lain. Sebagai akibatnya orang takut untuk bicara terus terang. Mungkin juga Anda dikenal sebagai ‘bos galak’, sehingga anak buah Anda tidak berani bicara jujur ketika menyampaikan berita buruk.
Fokus pada isi, bukan cara penyampaiannya
Cobalah fokus pada maksud pesan sesungguhnya dari si agresif-pasif. Apa pendapat atau perspektif yang mendasari komentar tajamnya? Caranya adalah melihat situasi dari sudut pandang si agresif-pasif. Apakah menurutnya cara Anda menjalankan proyek tidak berhasil? Atau apakah dia tidak setuju dengan tujuan tim? Tidak semua orang suka atau tahu cara mendiskusikan atau mengungkapkan pendapat secara terbuka.
Apabila merasa sudah menangkap maksud sebenarnya dari si agresif-pasif, mintakan konfimasi secara sopan, ringkas, dan tegas. Misalnya, : “Apakah menurut Anda proyek saya gagal?”, “Oh, tadi Anda mengatakan tidak setuju?”. Ingat bahasa tubuh Anda juga harus menunjukan keterbukaan untuk membuat si agresif-pasif ikut terbuka.
Jangan memberi cap
Apa pun yang Anda katakan, jangan menuduh rekan kerja Anda itu sebagai agresif-pasif. Label semacam itu akan membuatnya bersikap defensif dan lebih marah. Sebaiknya Anda ceritakan saja fakta interaksi yang telah Anda lalui dan dampaknya bagi Anda dan rekan itu. Jika memungkinkan, tunjukan dampak buruknya bagi dia, tim dan perusahaan.
Sebagai contoh: “Kemarin kita sudah sepakat Anda akan mengirim laporan jam 9. Mengapa jam 9? Karena laporan itu akan saya gunakan di rapat jam 14. Harapannya, dengan diterima lebih awal saya bisa mempelajari terlebih dahulu. Apabila ada kekurangan masih ada waktu untuk memperbaikinya. Tetapi Anda tidak mengirimkannya sampai pagi ini.
Akibatnya, saya datang ke rapat tanpa laporan. Tentu saja pak Direktur marah. Dia mengatakan mencatat keterlambatan ini dalam kinerja proyek kita. Mungkin hasil penilaian kineja tim kita akan buruk tahun ini. Ini akan berdampak pada bonus yang akan kita terima, termasuk bonus Anda.”
Minta bantuan tim
Anda tidak harus menghadapi situasi ini sendirian. Tidak masalah kalau Anda meminta tim untuk bersama-sama menghadapinya. Tetapi harus dipahami bahwa ini bukan upaya untuk memojokan dan bersengkol melawan si agresif-pasif, melainkan untuk mencegah kesalahpahaman dan membangun hubungan yang konstruktif dalam tim.
Caranya adalah tanyakan kepada anggota tim yang lain apakah mengalami peristiwa yang sama dengan Anda. Kemudian apa yang dilakukan bersama untuk mencegah peristiwa agresif-pasif muncul kembali.
Contohnya dalam rapat semua anggota tim berkomitmen melaksanakan keputusan. Perkembangan pelaksanaan keputusan akan di-review bersama. Rekan kerja yang dikenal agresif-pasif diberi tugas menyusun laporan tim, misalnya. Perkembangan pelaksanaanya dipantau bersama. Dengan cara ini, agresif-pasif maju tidak mau dipaksa untuk melaksanakan komitmennya. Saat ini teknologi bisa membantu pemantauan dan tinjauan kemajuan pelaksanaan komitmen tim. Anda bisa menggunakan Microsoft Team atau Trello.
Fokus pada tujuan komunikasi
Sering kali pesan agresif-pasif disampaikan melalui media, seperti email atau WhatsApp. Anda jangan terpancing untuk segera membalasnya. Misalnya rekan Anda mengisim pesan WhatsApp: “Laporan sudah saya kirim tiga hari yang lalu. Coba cek email Anda.” Padahal, Anda setiap pagi sebelum mulai kerja secara rutin membuka email. Anda jangan terpancing untuk membalas: “Saya tiap pagi buka email, tapi tidak ada email dari Anda yang masuk.”
Bagaimana menanggapinya? Lakukan panggilan telepon dan minta untuk mengirim email kembali. Anda tidak usah mempermasalahkan pernyataan yang mereka kirim melalui pesan teks. Anda hanya butuh laporan tersebut. Fokus pada tujuan komunikasi.
Minta dukungan atasan
Tidak ada salahnya Anda meminta bantuan atasan. Di sini, Anda bukan mengadu, tetapi menyampaikan informasi bahawa ada rekan yang selalau agresif-pasif dan menganggu situasi kerja. Mintalah nasihat darinya. Apabila atasan tidak bisa ikut memecahkan persoalan, tidak masalah. Tujuan utama Anda adalah memberitahunya bahwa ada rekan kerja Anda yang cenderung agresif-pasif.
Terakhir, Anda perlu melindungi diri dari agresif-pasif. Agresif-pasif sebenarnya juga merupakan bentuk respon terhadap Anda atau situasi. Orang memilih tidak agrsif pasif kalua Anda dipandang akomodatif. Kalau rekan kerja atau bawahan melihat Anda sebagai orang yang enak diajak bicara, dia akan memilih untuk berbicara terbuka. Tetapi kalua Anda dikenal sebagai orang yang tidak mau mendengar orang lain atau menyerang pembicaraan orang lain, rekan kerja akan memilih untuk menggunakan mode agresif-pasif.
Ada juga orang yang sengaja menggunakan agresif pasif secara sengaja untruk menjatuhkan Anda dengan membuat kesal, kelihatan buruk, atau gagal. Si agresif pasif ini akan bicara berbelit-belit, berputar-putar, untuk membuat Anda kesal. Ungkapannya lait di ulit lain di hati. Untuk menghadapi ornag semacam ini, Anda harus membangun sikap tegas dan profesional. Anda tidak perlu memberi penjelasan Panjang lebar, karena memang niatnya membuat Anda kesal. Misalnya, agresif pasif mengatakan:” saya sudah pesan WA tiga kali sejak kemarin mengenai kasus ini. Anda tidak menerimanya? Jangan-jangan HP Anda yang bermasalah.” Jawab secara profesional:”Bisa kirim lagi sekarang?’.
Anda juga bisa menggunakan pesan tegas dengan membuat pernyataan “saya”. Misalnya, “Saya tidak mau lagi kamu mangkir.”, “Saya tidak mau mendengar lagi alasan Anda mengirim WA dan saya tidak membacanya. Setelah kirim WA yang penting, telepon saya.”
Semoga tulisan ini membantu. Selamat mencoba.
Referensi HR
Kategori :
Psikologi Manajemen
Tanggal :
09 Juni 2023
Join HRManufaktur PRO
HR Manufaktur Indonesia hadir untuk mendampingi para profesional HR manufaktur untuk menguasai pengetahuan dan kompetensi baru tersebut